Aku terbaring disudut kamar
Beralaskan kasur tipis yang sudah usang
Ketika melihat kearah dinding
Dan langit-langit kamarku
Penuh dengan coretan perasaanku
Akupun menjatuhkan air mata
Di iringi angin yang menghembus
Dari jendela kamarku
Huusstt.... Suara angin yang membekukan
Sekujur tubuhku
Aku terdiam dalam hampa
Alunan musik yang membawa roh ku
Entah kemana
Aku tak tau apa yang kupikirkan
Duuuaaarrr... Petir menyambar
Seakan membangunkanku
Dalam khayal tangis penyesalan
Air hujanpun turun dengan derasnya
Dengan cepat aku menarik selimut
Dari bawah kakiku
Dan aku menutupi sekujur tubuhku
Takut, takut, dan takut
Jiwa ini tak sadar
Tatkala angin malam menerobos
Lubang-lubang kecil
Hingga aku terkapar dan tak berdaya
Dalam ruangan sempit nan hampa
Setetes air mata
Tak sanggup membayar
Perih jiwa dan raga
Yang tergores luka pahit
Tapi tetap mengalir
Semakin deras bagaikan tsunami
Jerit batin raga terkoyah
Terdiam dalam tangis
Kehampaan dan tak keperdulian
Menyatu menjadi satu gumpalan
Yang kan ku buang dan berganti
Cahaya keabadian..