Selasa, 14 Juni 2016

Karya Puisiku 212



Disaat kau merindukan seseorang
Sampai menitikan air mata
Disitulah terlihat seberapa besar
Perasaan rindu yang terpendam

Ketika seseorang tak mampu ungkapkan kata
Seolah membungkam sebuah kalimat rindu
Alunan lagulah yang mewakilkan rasa
Hingga terhimpit sesakan dada

Seorang perempuan
Tak mungkin memulai cinta
Hanya memberikan pertanda samar
Karena malu jika yang dikaguminya
Tak seperti yang ia rasakan

Mungkin sebuah perhatian yang lebih
Adalah bukti keikhlasannya
Yang dengan rela membagi waktunya
Hanya untuk memikirkan tentangnya

Jika Tuhan telah meridhai
Maka halalkanlah dengan sebuah keyakinan
Dan tekad yang bulat
Membimbing jalan yang terberkati

Tuhan akan berikan milyaran uluran tangan
Untuk manusianya yang percaya dan yakin
Atas kebesaran dan keajaibanNya

Karya Puisiku 211



Darah yang tercecer diatas lantai
Dengan bau alkohol yang menyengat
Ditemani beberapa pil kuning yang belum sempat dihabiskan
Ia terkapar tak berdaya

Apa yang dilakukan anak berumur belasan tahun itu?
Menghadap kematian untuk pergi dari masalah?
Tak ada guna melakukan hal sebodoh itu
Padahal sebenarnya ia mampu bangkit melawan arus

Dimana peran orang tua?
Ia hanya mengharapkan perhatian dan kasih sayang
Butuh sebuah dukungan hidup
Bukan dibiarkan
Dan melepaskan sekenanya

Namun ia tetap beruntung
Dalam keadaan menghadap sakaratul mautnya
Malaikat baik dunia
Menghampirinya dan memberikan telapak tangannya

“Siapa dia?” dalam pandangan kabur seorang pecundang
Yang berani merangkul dan memeluknya
Hingga kenyamanan itu melekat didasar tubuh
“Aku yang akan membuatmu kuat dan berdiri tegak lagi” bisik seorang malaikat

Karya Puisiku 210



Amunisi ini kembali terisi penuh
Bangkit lagi melawan teror kehidupan
Berdiri menantang kekejaman dunia yang keras
Entah dengan secanggih apa ia akan terbekukan

Terlempar ke angkasa yang gelap
Atau teremukkan oleh usia tua?
Kapan ia akan hancur selebur-leburnya
Hingga semuanya menghindar dari amukkannya

Persetan dengan opini tak bertulang
Jeritan-jeritan kematian telah bermunculan
Nerakapun telah menganga lebar
Menunggu santapan makanan kecil yang berlumuran nanah
Seakan darahpun menjadi pelega dahaga

Muak semuak-muaknya!
Mereka bersekongkol dengan cara halus
Rencana setengah matang mampu terwujudkan
Licik yang terobsesikan kemarahan

Tak ada lagi tangan-tangan pemberi
Hanya dorongan keras menuju lubang kegelapan
Tuk temani hari yang semakin kelam
Tanpa ada pojokan untuk bersembunyi
Ataupun sekedar bersandar sekejap

Karya Puisiku 209



Aku tidak akan memaksa dunia
Untuk membuatmu menjadi kekasihku
Tapi aku selalu berharap dalam doa
Dan disetiap sujud panjangku
Untuk membuatmu menjadi imamku selamanya

Tanpa adanya ikatan pacaran
Mungkin akan membuat kita merasa jauh
Namun sisi baik dari itulah yang ingin aku rasakan
Untuk kedepannya
Berjalan dan melangkah bersama

Karena perjalanan yang paling indah
Ketika kalimat ijab kabul telah terlontarkan
Tanpa adanya sebuah dosa yang menghantui
Semua seakan kembali suci dan murni

Menjalani dengan ikhlas
Tanpa ada sedikitpun paksaan
Belajar membangun kehidupan baru
Dengan berkaca pada orang-orang sekitar

Yakin, semua akan indah
Apabila menggenggam erat kuat
Bersamamu..